Home / Artikel

image

Pesawat Tempur Korea-RI Lampaui F-18 dan Eurofighter



Kita saat membuat komponen itu sesuai dengan share porsi 80:20. Artinya, setiap produksi KFX/IFX baik di Korea maupun di Indonesia, ada komponen yang dibuat PT DI sebesar 20%. Apa saja? Ada sayap, ekor dan sebagainya. Sebetulnya, Indonesia kalau memiliki kualifikasi yang bagus mungkin bisa lebih dari 20%,katanya.

Disinggung soal komponen radar yang masih terkendala pengadaannya, Heri mengakui hal itu tidak menjadi masalah karena pihak KAI berencana mencari penyedia radar dari negara-negara Eropa seperti Italia dan Inggris. Heri juga tidak mempermasalahkan, anggapan bahwa pesawat tempur ini akan ketinggalan dalam hal teknologi.

Sekarang kan kita pada tahap generasi 4,5. Pada 2026, pesawat tempur sudah generasi 5 tapi kan kita sudah melakukan loncatan teknologi ke level yang lebih tinggi, dari pada kita tidak punya kemampuan sama sekali,katanya.

Jika tidak ada kendala, kata dia, pesawat tempur tersebut akan mulai diproduksi massal pada 2026 karena sudah mendapatkan sertifikasi. Jadi beberapa komponen akan diproduksi oleh pihak lain termasuk engine (mesin) dan avioniknya. Mesinkita gunakan F414 buatan Amerika. Navigasi diproduksi oleh pihak lain yang diintegrasikan ke dalam pessawat ini,katanya.

Direktur Teknologi dan Pengembangan PT DI Marsekal Pertama TNI Gita Amperiawan mengatakan, pesawat tempur KFX/IFX adalah pesawat tempur multirole kelas menengah generasi 4,5 yang didesain canggih secara aerodinamis dan memiliki kemampuan manuver yang tinggi.

Pesawat ini dirancang menggantikan armada tempur Republic of Korea Air Force atau Angkatan Udara Republik Korea (ROKAF) dan TNI Angkatan Udara (AU).

Beberapa keunggulan yang dimiliki pesawat tempur KFX/IFX, di antaranya semi-stealth, semi conformal missile launcher, advanced avionics, dan air refueling, katanya.

Meski dikerjakan bersama dengan KAI, namun pembuatan pesawat ini disesuaikan dengan kebutuhan TNI AU sebagai pengguna. Rencananya, TNI AU membeli pesawat ini untuk tiga skadron atau 48 unit pesawat. 

Berbeda dengan Korea, untuk kebutuhan TNI AU pesawat ini akan dilengkapi dengan drag chute atau payung parasut dan external fuel atau tanki eksternal, katanya.

Kepala Puslitbang Iptekhan Kementerian Pertahanan Bambang Wijanarko mengatakan, dalam Nawacita disebutkan bahwa pentingnya kemandirian dalam membuat alat utama sistem persenjataan (alutsista) salah satunya adalah pesawat tempur.


Tags


Klien Kami

icon
icon
icon
icon
icon
icon
icon
icon
icon
icon
icon